Jumat, 11 Juni 2010

KUMPULAN PUISI CINTA YANG SANGAT SYAHDU DAN MENYENTUH HATI





PUISI CINTA

Seorang Penyair
Apa yang dapat diberikan seorang penyair ?
Saat tak ada sesuatu yang dapat mengilhami
Ketika realita tak cukup untuk menginspirasi
Matikah ia…. bersama syair-syair lama yang t’lah lapuk
dan kehilangan pembaca ?
Apa yang harus dilakukan seorang penyair ?
Saat kosong memenuhi imaji
Saat sendiri juga tak cukup berikan ruang untuk kehadiran satu puisi
Tak pantas lagikah ia… tetap disebut penyair walaupun tak lagi mampu
untuk tetap bersyair ?

Rindu Puisi
Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali

Letih
Letih… ku berdiri di bawah terik mentari
Semenjak engkau melangkah menjauh pergi
Hingga rambut ini mulai memutih
Masih… tak kutemui engkau kembali
Letih… hanya saja raga ini b’lumlah mati
Hingga jiwa terus saja meminta tuk menunggumu disini
Sampai engkau hadir…
Sampai larut penantian menjadi bagian dari takdir

Ingin Aku
Ingin aku berteriak pada langit
Tapi aku takut, langit tak mendengarku
Ingin aku berbisik pada angin
Tapi aku takut, bisikanku terbang entah kemana




Kerinduan Abadi
Mencoba lepaskan beban
Kutulis sebait lagu tentang kerinduan
Terpendam dibatas jarak yang memisahkan
Jujur ingin aku bertemu
Mencoba lukiskan bayang
Selintas wajah gadis yang kurindukan
Di awan kugoreskan imaji dan bisikkan
Tetap setia padaku
Betapa berarti
Sesaat pertemuan kita
Obati rindu sekian waktu lamanya
Hanya hati
Setia pada cinta dijiwa
Kan membawa ini jadi selamanya

Carl Rogers : Psikolog Aliran Humanisme

Carl Rogers : Psikolog Aliran Humanisme
Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena serangan jantung.
Latar belakang: Rogers adalah putra keempat dari enam bersaudara. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral dan etika. Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide – ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman -pengalaman terapeutiknya.
Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.

Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak – kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.
Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.
Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda – beda tergantung pada pengalaman – pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut.
Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.




Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):
1. Keterbukaan pada pengalaman
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatip.
2. Kehidupan Eksistensial
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.
3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.
3. Perasaan Bebas
Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan – paksaan atau rintangan – rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.
4. Kreativitas
Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri – ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.
Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.
Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.
Rogers juga mengabaikan aspek – aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.
Teori Rogers ini memang sangat populer dengan masyarakat Amerika yang memiliki karakteristik optimistik dan independen karena Rogers memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik, konstruktif dan akan selalu memiliki orientasi ke depan yang positip. Pertanyaannya yaitu : Apakah teori ini juga akan sama efektifnya jika diaplikasikan pada masyarakat dengan budaya, dan struktur sosial serta sistem kemasyarakatan yang berbeda dengan Amerika?
Sumber Referensi:
Schultz, Duane. Psikologi Pertumbuhan: Model – Model Kepribadian Sehat. Jogjakarta: Kanisius, 1991.
http://blog.kenz.or.id/2005/05/02/carl-rogers-psikolog-aliran-humanisme.html
Hari Selasa, Tgl 13 April 2010, Pkl 19:35

Kamis, 10 Juni 2010

Sabtu, 05 Juni 2010

FUNGSI, PRINSIP DAN ASA BK

Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling

Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah :
1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
4. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
6. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
9. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
10. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli
Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:
1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
2. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
3. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
4. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
5. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
6. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.
Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.
1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.
DAFTAR RUJUKAN
AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN
Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas.
Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall
Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.
Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD.
Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association).
Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company.
Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang.
Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi,
Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL,
Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center.
Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company.
Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay.
Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com.
Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc.
Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling.
Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program.
Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark.
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd.
Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas.
Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI.
Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys.
——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.
——–.dan Juntika N. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Stoner, James A. (1987). Management. London : Prentice-Hall International Inc.
Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen
Wagner William G. (1996). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Vol 24 No. 3 July’96.
Woolfolk, Anita E. 1995. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon.
*)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Uman Suherman, M.Pd. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU.

SATLAN BK

SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan : 1
Mencapai Kematangan Dalam Beriman dan Bertaqwa
kepada Tuhan yang Maha Esa

Sekolah :
Kelas/Semester :
Tahun : 2005 - 2006

A. Bahasan/Topik
Permasalahan : Nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari
B. Bidang bimbingan : Sosial
C. Jenis layanan : Informasi
D. Fungsi layanan : Pemahaman
E. Kompetensi
yg ingin dicapai : Siswa dapat memahami nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi penyajian : Klasikal (ceramah, tanya jawab, diskusi)
2. Materi : 1. Pengertian nilai-nilai ajaran agama
2. Pentingnya nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari
G. Tempat
penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi waktu : 1 x 45 menit
I. Pihak yang
disertakan/Peran : Guru agama/penyaji
J. Alat dan perlengkapan : OHP, alat tulis, buku sumber
K. Rencana Penilaian : laiseg, laijapen, laijapan
L. Rencana Tindak lanjut : - Melaksanakan bimbingan kelompok
- Melaksanakan konseling individu
M. Catatan khusus :


Parung, 30 September 2006
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

_________________ __________________
NIP NIP






PENILAIAN KEBERHASILAN
LAYANAN BK

Tugas Perkembangan 1 : Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME
Kelas/Semester : X/1
Bidang bimbingan : Sosial
Jenis layanan : Informasi
Topik Bahasan : Nilai-nilai ajaran yang terkandung dalam agama
Isi Materi : 1. Pengertian nilai-nilai ajaran agama
2. Pentingnya nilai-nilai ajaran agama

Penilaian : Laiseg
Instrumen penilaian : Angket


Angket

No Pertanyaan Jawaban
Sering Kadang2 Tdk pernah
1. Melaksanakan ibadah wajib dengan baik
2. Menghindari larangan-larangan agama
3. Mengajak dan mentraktir teman ke kantin
4. Menyumbang untuk pembangunan tempat ibadah
5. Menolong teman yang terkena musibah
6. Ikut merasakan penderitaan orang lain
7. Mengagumi ciptaan tuhan
8. Mensyukuri rahmat dan nikmat yang di karuniai oleh Tuhan Yang Maha Esa
9. Berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan
10. Meningkatkan kualitas ibadahnya












SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan : 2
Mencapai Kematangan Dalam Hubungan Teman Sebaya
Serta Kematangan dalam peranannya sebagai pria atau wanita

Sekolah :
Kelas/Semester : XI / 2
Tahun : 2005 - 2006

A. Bahasan/Topik
Permasalahan : Etika pergaulan dengan teman sebaya
B. Bidang bimbingan : Sosial
C. Jenis layanan : Informasi
D. Fungsi layanan : Pemahaman
E. Kompetensi
yg ingin dicapai : Siswa dapat memahami pentingnya etika pergaulan antara pria dan wanita
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi penyajian : - Guru pembimbing memberikan penjelasan kepada siswa
- Dilanjutkan diskusi kelompok
- Diadakan kesimpulan dari hasil diskusi kelompok
2. Materi : 1. Batas pergaulan pria atau wanita
2. Cara menempatkan diri dalam pergaulan antara pria dan wanita
G. Tempat
penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi waktu : 2 x 45 menit
I. Pihak yang
disertakan/Peran :
J. Alat dan perlengkapan : Papan tulis, buku sumber
K. Rencana Penilaian : laiseg, laijapen, laijapan
L. Rencana Tindak lanjut : - Konseling perorangan
M. Catatan khusus :


Parung, 30 September 2006
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

_________________ __________________
NIP NIP




PENILAIAN KEBERHASILAN
LAYANAN BK

Tugas Perkembangan 2 : Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya serta kematangan dalam perananya sebagai pria dan wanita
Kelas/Semester : XI/2
Bidang bimbingan : Sosial
Jenis layanan : Informasi
Topik Bahasan : Etika pergaulan dengan teman sebaya
Isi Materi : 1. Batas-batas pergaulan pria atau wanita
2. Cara menempatkan diri dalam pergaulan antara pria atau wanita
Penilaian : Laiseg, laijapen, laijapang
Instrumen penilaian : Angket
Questionare

I. Angket


No
Pernyataan Jawaban
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah
1. Saya bersahabat dengan teman yang sejalan dengan saya

2. Saya bersikap jujur dalam bersahabat

3. Saya tidak mau tahu perasaan teman-teman saya

4. Saya akan menerima teman apa adanya

5. Saya kadang benci dengan sikap teman saya

6. Saya mengungkapkan isi hati saya pada teman yang paling aku percaya

7. Saya berusaha mengerti dengan teman saya

8. Saya bergaul dengan teman tertentu saja

9. Saya bergabung kegiatan yang saya senangi

10. Saya curiga dengan teman yang belum saya kenal






II. Questioner

1. Sikap yang diharapkan dari seorang pria dalam pergaulan
-
-
-
-
-

2. Sikap yang diharapkan oleh seorang seorang perempuan
-
-
-
-
-

3. Tuliskan motivasi Anda menghargai teman lawan jenis Anda
-
-
-
-
-

4. Tuliskan norma-norma yang membatasi pergaulan dengan lawan jenis
-
-
-
-
-


SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DANKONSELING

Tugas Perkembangan 3
Mencapai kematangan pertumbuhan jasmani yang sehat

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : X / 2
Tahun : 2005/2006

A. Bahasan/
Topik/Permasalahan : Contoh-contoh pentingnya kondisi jasmani yang sehat
dalam hubungan sosial
B. Bidang Bimbingan : Sosial
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin : Mengetahui cara mengelola sampah
Dicapai
F. Uraian Kegiatan :
1. Strategi Penyajian : Klasikal (ceramah, tanya jawab)
2. Materi : Cara-cara pengelolaan sampah yang baik
G. Tempat Penyelenggaraan : Di dalam kelas / di luar kelas
H Alokasi Waktu : 1X 45 menit
I. Pihak yang Disertakan/
Peran : -
J. Alat dan Perlengkapan : -
K. Rencana Penilaian : Ket. proses
Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan kelompok
b. -
L. Catatan Khusus : -


……………………….2005
Kepala Sekolah Guru Pembimbing




NIP NIP












PENILAIAN KEBERHASILAN
LAYANAN BK

Tugas Perkembangan 3 : Mencapai kematangan pertumbuhan jasmani yang sehat
Kelas/Semester : X/1
Bidang bimbingan : Sosial
Jenis layanan : Informasi
Topik Bahasan : Contoh-contoh pentingnya kondisi jasmani yang sehat dalam hubungan sosial
Isi Materi : Cara-cara pengelolaan sampah yang baik
Penilaian : Laiseg, laijapen
Instrumen penilaian : Angket


I. Angket

No Pernyataan Jawaban
Sering Kadang-kadang Tidak Pernah
1. Membuang sampah pada tempatnya
2. Memisahkan sampah yang kering dengan yang basah
3. Membakar sampah yang kering
4. Menanam sampah basah
5. Memanfaatkan sampah yang masih bisa digunakan/mendaur ulang
6. Berpikir untuk mendaur ulang sampah
7. Pernah membuat kompos
8. Membersihkan sampah yang berserakan
9. Menegur orang lain yang tidak membuang sampah pada tempatnya


SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 4:
(Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan kesenian sesuai dengan program kurikulum,
persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : X/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Informasi Perguruan Tinggi.
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa memahami tentang macam-macam Perguruan Tinggi
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : Klasikal, informasi, Tanya jawab

2. Materi : 1. Pengertian perguruan tinggi
2. Jenis-jenis perguruan tinggi
3. Status perguruan tinggi

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : Siswa X
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, buku panduan Perguruan Tinggi
K. Rencana Penilaian : Penilaian proses
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Konseling individu
b. Konseling kelompok
M. Catatan Khusus :

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

…………………….. ……………………….
NIP NIP




SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 4:
((Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan kesenian sesuai dengan program kurikulum,
persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas)


Sekolah : SMA
Kelas/Semester : XI
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Mengenal macam-macam fakultas dan jurusan di Perguruan Tinggi
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mendapat pengetahuan tentang macam-macam fakultas dan jurusan di Perguruan Tinggi
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : Klasikal, informasi, Tanya jawab, diskusi

2. Materi : - Macam-macam fakultas
- Prospek Perguruan Tinggi

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : Siswa X I
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, buku panduan Perguruan Tinggi
K. Rencana Penilaian : Penilaian proses
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan kelompok
b. Konseling kelompok
M. Catatan Khusus :

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

…………………….. ……………………….
NIP NIP



SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 4:
((Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan kesenian sesuai dengan program kurikulum,
persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas)


Sekolah : SMA
Kelas/Semester : XII
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Memanfaatkan Teknologi.
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa dapat menerapkan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : Klasikal, informasi, Tanya jawab

2. Materi : Teknologi informasi

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : Siswa XII
J. Alat dan Perlengkapan : OHP,
K. Rencana Penilaian : Penilaian proses
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan individu
b.
M. Catatan Khusus :

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

…………………….. ……………………….
NIP NIP


PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK



Tugas Perkembangan : Mengembangkan penguasaan ilmu teknologi dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dalam melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang luas

Kelas/Semester : X

Topik Bahasan : Mengenal macam-macam Perguruan Tinggi

Bidang Bimbingan : Pribadi

Jenis Layanan : Informasi

Isi Materi : 1. Macam-macam jenis Perguruan Tinggi Negeri
2. Macam-macam jenis Perguruan Tinggi Swasta

Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang

Angket
No Pernyataan Jawaban
Sangat Paham Paham Tidak Paham
1.

2.

3

4.

5.

6.

7.

8.

9. Macam-macam Perguruan Tinggi di Indonesia
Macam-macam jenis Perguruan Tinggi di Indonesia
Macam-macam fakultas di Perguruan Tinggi
Macam-macam jurusan di Perguruan Tinggi
Macam-macam jenjang perguruan tinggi
Sistem perkuliahan di Perguruan TInggi
Macam-macam jabatan di Perguruan Tinggi
Macam-macam fakultas di Perguruan Tinggi
Prospek di Perguruan Tinggi
Praktek perkulian (PKL, KKN)



PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK


Tugas Perkembangan : Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dalam melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Kelas/Semester : XI

Topik Bahasan : Mengenal macam-macam Fakultas/jurusan di Perguruan Tinggi

Bidang Bimbingan : Pribadi

Jenis Layanan : Informasi

Isi Materi : 1. Macam-macam fakultas/jurusan di Perguruan Tinggi

Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang

Angket
No Pernyataan Jawaban
Sangat Paham Paham Tidak Paham
1.

2.

3

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10

11
Macam-macam Fakultas/jurusan teknik
Macam-macam Fakultas/jurusan pertanian
Macam-macam Fakultas/Jurusan Peternakan
Macam-macam Fakultas/jurusan Perikanan
Macam-macam Fakultas/jurusan Kedokteran
Macam-macam Fakultas/Jurusan Ekonomi
Macam-macam Fakultas/jurusan Ilmu Alam
Macam-macam Fakultas/Jurusan Ilmu Sosial
Macam-macam Fakultas/jurusan Bahasa dan Sastra
Macam-macam Fakultas/jurusan Informatika
Macam-macam Fakultas/Jurusan Farmasi

PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK


Tugas Perkembangan 4 : Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dalam melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dan kehidupan masyarakat yang lebih luas

Kelas/Semester : XII

Topik Bahasan : Memanfaatkan Teknologi

Bidang Bimbingan : Pribadi

Jenis Layanan : Informasi

Isi Materi : Teknologi Informasi
Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang

Instrumen Penilaian : Angket


No Pernyataan Jawaban
Sangat Paham Paham Tidak Paham
1.
2.
3
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
Penggunaan Radio dan TU
Penggunaan Telepone
Penggunaan Handphone
Penggunaan HT (Handy Talky)
Penggunaan OHP (Overhead Projector)
Penggunaan LCD (Lycuid Crystal Dissplay)
Penggunaan Computer
Penggunaan Informasi dari Internet
Penggunaan Parabola
Penggunaan Satelit









SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 5:
(Mencapai Kematangan dalam Pilihan Karir)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : X/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Memilih Jurusan di SMA yang sesuai dengan bakat dan minat.
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mampu memilih jurusan di SMA yang sesuai dengan bakat dan minat
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : Klasikal :
a. Menyiapkan siswa untuk memasuki
proses pemberian layanan.
b. Penjelasan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan.
c. Pengisian tentang penjajakan angket penjurusan.

2. Materi : a. Syarat-syarat akademis program IPA
b. Syarat-syarat akademis program IPS
c. Syarat-syarat akademis program BHS

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : Siswa X
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, Kurikulum, Papab Tulis, Spidol, Kertas.
K. Rencana Penilaian : Laiseg, Laijapen,Laijapang
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan individu
b. Bimbingan kelompok
c. Pengisian Angket Penjurusan
M. Catatan Khusus : Mempertimbangkan Prestasi Akademik

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

…………………….. ……………………….
NIP NIP


SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 5:
((Mencapai Kematangan dalam Pilihan Karir)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : XI/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Memilih Kegiatan Ekstra Kurikuler
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mampu memilih kegiatan ekstrakurikuler yang tepat
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : Klasikal :
a. Menyiapkan siswa untuk memasuki
proses pemberian layanan.
b. Pemberian layanan informasi tentang berbagai kegiatan ekstrakurikuler
c. Pengisian tentang penjajakan angket pemilihan ekstrakurikuler.


2. Materi : -Macam-macam kegiatan ekstrakurikuler
-Ekstrakurikuler yang mendukung karir
- Kiat-kiat mencapai prestasi di bidang
ekstrakurikuler

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : Bagiankesiswaan,Koordinator Ekstrakurikuler
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, Papan Tulis, Angket
K. Rencana Penilaian : Laiseg, Laijapen, Laijapang
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan kelompok
b. Konseling kelompok
M. Catatan Khusus :

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

…………………….. ……………………….
NIP NIP


SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 5:
((Mencapai Kematangan dalam Pilihan Karir)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : XII/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Orientasi, Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mampu memilih Jurusan di Perguruan Tinggi yang sesuai dengan bakat dan minat
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : Klasikal :
a. Menyiapkan siswa untuk memasuki
proses pemberian layanan.
b. Pemberian layanan informasi tentang berbagai jurusan yang ada di Perguruan Tinggi
c. Pengisian tentang penjajakan angket pemilihan Jurusan/Perguruan Tinggi.

2. Materi : a. Perguruan Tinggi yang ada di
Indonesia.
b. Penjenjangan Perguruan Tinggi
c. Pengelompokan program studi
menurut jenjangnya.

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 3 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : PT/PTS
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, Papan Tulis, Brosur
K. Rencana Penilaian : Laiseg, Laijapen, Laijapang
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan kelompok
b. Konseling individu
M. Catatan Khusus : Mengundang Narasumber dari PTN/PTS

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

…………………….. ……………………….
NIP NIP


SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 5:
((Mencapai Kematangan dalam Pilihan Karir)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : XII/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Memilih Pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Orientasi, Informasi
D. Fungsi Layanan : Penyaluran
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mampu memilih pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : Klasikal :
a. Menyiapkan siswa untuk memasuki
proses pemberian layanan.
b. Pemberian layanan informasi tentang berbagai jenis lapangan kerja
c. Pengisian tentang penjajakan angket pemilihan pekerjaan.

2. Materi : a. Macam-macam profesi.
b. Macam-macam lapangan pekerjaan
c. Mengikuti pelatihan-pelatihan yang
sesuai dengan bakat dan minat.

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 3 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : Disnaker, BLK
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, Papan Tulis, Brosur,Angket
K. Rencana Penilaian : Laiseg, Laijapen, Laijapang
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan kelompok
b. Konseling individu
c. Mengikuti pelatihan
M. Catatan Khusus : Presentasi dari seorang tokoh yang sukses

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing

…………………….. ……………………….
NIP NIP


PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK

Tugas Perkembangan 5 : Mencapai kematang dalam pilihan karir

Kelas/Semester : X, XI, /1,2

Topik Bahasan : Memilih kegiatan ekstrakurikuler

Bidang Bimbingan : Pribadi

Jenis Layanan : Informasi, Orientasi

Isi Materi : 1. Macam-macam kegiatan ekstrakurikuler
2. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung karir
3. Kiat-kiat mencapai prestasi dalam kegiatan ekstrakurikuler

Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang
Instrumen Penilaian : Angket


No Pernyataan Jawaban
Ya Tidak
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15 Memahami jenis dan macam kegiatan ekstrakurikuler
Mengikuti beberapa jenis kegiatan ekskul
Mengikuti ekskul olah raga
Mengikuti ekskul bahasa asing
Mengikuti ekskul komputer
Mengikuti ekskul musik
Mengikuti ekskul vocal group
Mengikuti ekskul keterampilan menjahit
Kegiatan ekstrakurikuler bisa mendukung kegiatan karir
Melaksanakan ekstra dengan tekun
Mendapat dukungan dari orang tua untuk mengikuti ekskul
Kesulitan memilih kegiatan ekskul
Ada kesesusian kegiatan ekstra dengan pilihan karir
Mengembangkan ekskul untuk mengembangkan prestasi
Pilihan karir relevan dengan kegiatan ekskul










PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK

Tugas Perkembangan 5 : Mencapai kematangan dalam pilihan karir

Kelas/Semester : XII/1

Topik Bahasan : Memilih jurusan di Perguruan Tinggi yang tepat

Bidang Bimbingan : Pribadi

Jenis Layanan : Informasi, Orientasi

Isi Materi : 1. Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia
2. Penjenjangan Perguruan Tinggi
3. Pengelompokan Program Studi

Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang

Instrumen Penilaian : Angket

No Pernyataan Jawaban
Ya Tidak
1.
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14 Melanjutkan studi di perguruan tinggi
Prioritas pertama melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri
Prioritas kedua melanjutkan studi di perguruan tinggi swasta
Mengetahui system regionalisasi PTN di Indonesia
Melanjutkan studi pada program kependidikan
Melanjutkan studi pada program non kependidikan
Mengetahui sistem penjenjangan di PT
Mengetahui jenjang pendidikan S1, S2, S3
Mengetahui jenjang pendidikan diploma 3
Mengetahui jenjang pendidikan gelar non gelar
Mengetahui program pendidikan profesi
Mengetahui program pendidikan ikatan dinas
Memilih jurusan IPA sesusai dengan prestasi akademik
Memilih jurusan IPS sesusai dengan prestasi akademik



SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 6
(Mencapai Kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri
secara emosional, social, intelektual, dan ekonomi.)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : X/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Belajar mengambil keputusan secara mandiri dalam bidang ekonomi.
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mampu mengelola keuangan secara mandiri
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : a. Secara Klasikal : siswa merespon
penjelasan Guru Pembimbing
tentang cara mengelola
keuangan secara efektif.

d. Secara Kelompok : Guru Pembimbing memberikan tugas untuk mendiskusikan materi tentang cara mengelola keuangan secara efektif.

e. Pengisian Format Penilaian tentang kemampuan mengelola keuangan secara efektif.

2. Materi : 1.Cara-cara/kiat menggunakan uang secara efektif.
2. Tips belanja hemat

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 1 x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : -
J. Alat dan Perlengkapan : OHP,Papan Tulis, Spidol, sumber yang relevan..
K. Rencana Penilaian : Penilaian Proses
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Konseling Individual
b. Konseling Kelompok
M. Catatan Khusus :

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing



…………………….. ……………………….
NIP NIP

SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 6:
(Mencapai Kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri
secara emosional, social, intelektual, dan ekonomi)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : XI/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Berpikir secara positif dalam kehidupan sehari-hari
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mampu berpikir secara positif dalam kehidupan sehari-hari
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : a. Secara Klasikal : siswa merespon penjelasan Guru Pembimbing tentang cara berpikir positif dan manfaat berpikir positif bagi kesehatan fisik dan mental
b.Secara Kelompok : Guru Pembimbing memberikan tugas untuk mendiskusikan materi tentang cara berpikir positif dan manfaat berpikir positif bagi kesehatan fisik dan mental
c.Pengisian Format Penilaian tentang cara berpikir positif dan manfaat berpikir positif bagi kesehatan fisik dan mental
2. Materi : 1. Cara-cara berpikir positif
2. Manfaat beprikir positif bagi
kesehatan fisik dan mental.

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 1x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : -
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, Papan Tulis, Angket
K. Rencana Penilaian : Laiseg, Laijapen, Laijapang
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan kelompok
b. Konseling kelompok
c. Konseling individual
M. Catatan Khusus :

…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing


…………………….. ……………………….
NIP NIP

SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

Tugas Perkembangan 6:
(Mencapai Kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri
secara emosional, social, intelektual, dan ekonomi)

Sekolah : SMA
Kelas/Semester : XII/1,2
Tahun :2005/2006

A. Bahasan/ Topik Permasalahan : Memilih teman dekat sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan keluarga.
B. Bidang Bimbingan : Pribadi
C. Jenis Layanan : Informasi
D. Fungsi Layanan : Pemahaman
E. Kompetensi yang ingin dicapai : Siswa mampu memilih teman dekat sebagai persiapan memasuki kehidupan berkeluarga
F. Uraian Kegiatan
1. Strategi Penyajian : a. Secara Klasikal : siswa merespon penjelasan Guru Pembimbing tentang Cara-cara bergaul dengan lawan jenis
b.Secara Kelompok : Guru Pembimbing memberikan tugas untuk mendiskusikan materi tentang Cara-cara bergauldengan lawan jenis
c.Pengisian Format Penilaian tentang Cara-cara bergaul dengan lawan jenis

2. Materi : Cara-cara bergaul dengan lawan jenis.

G. Tempat Penyelenggaraan : Ruang kelas
H. Alokasi Waktu : 1x 45 menit
I. Pihak yang disertakan/Peran : -
J. Alat dan Perlengkapan : OHP, Papan Tulis, Angket,buku yang relevan.
K. Rencana Penilaian : Penilaian Proses
L. Rencana Tindak Lanjut : a. Bimbingan kelompok
b. Konseling individual
c. Konseling kelompok

M. Catatan Khusus :


…….., ……………...2004
Kepala Sekolah Guru Pembimbing



…………………….. ……………………….
NIP NIP



PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK


Tugas Perkembangan 6 : Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, social, intelektual, dan ekonomi
Kelas/Semester : XI/1,2
Topik Bahasan : Berpikir secara positif dalam kehidupan sehari-hari
Bidang Bimbingan : Pribadi
Jenis Layanan : Informasi, Orientasi
Isi Materi : 1. Cara-cara berpikir positif
2. Manfaat berpikir positif bagi kesehatan fisik
dan mental
Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang
Instrumen Penilaian : Skala Sikap Likert

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Petunjuk Mengerjakan Skala Sikap

Jawablah pernyataan di bawah ini dengan membubuhkan tanda checklist pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda
Keterangan :
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
TPP : Tidak Punya Pendapat
TS : Tidak setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan Jawaban
SS S TPP TS STS
1

2

3

4
5

6

7
8

9

10

11
12

13

14
15 Orang yang berpikiran positif selalu bangun pagi dengan perasaan senang.
Selalu melaksanakan aktivitas pagi dengan perasaan tenang
Selalu mengerjakan tugas atau pekerjaan dengan tidak mengeluh
Menyapa orang lebih dulu bila berpapasan
Tersenyum jika bertemu orang yang telah dikenal.
Menampakkan raut wajah yang tenang pada setiap situasi.
Selalu menghargai kelebihan orang lain
Tidak menyalahkan orang lain bila menemui kegagalan.
Mudah melakukan komunikasi dengan siapapun.
Ketika berkomunikasi dengan orang lain tidak memiliki perasaan negatif.
Tidak membicarakan kelemahan orang lain
Di dalam pergaulan tidak membeda-bedakan teman/orang.
Mudah memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukannya.
Berempati pada penderitaan orang lain
Dapat mengendalikan emosi


Skoring :
1. SS diberi skor 5
2. S diberi skor 4
3. TPP diberi skor 3
4. TS diberi skor 2
5. STS diberi skor 1

Interprestasi Skor :
Skor maksimal : 75
Median : 36
Skor minimal : 5
Kelas Interval : 75 – 5 = 60 : 3 = 20

1. Diatas rata-rata 56- 75 :Anda telah memiliki pola pikir yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dapat menunjang kesehatan fisik dan mental sehingga kepribadian anda akan berkembang optimal.

2. Rata-rata 36 - 55 : Anda perlu mengembangkan pola pikir yang
positif untuk mengembangkan kepribadian.

3. Dibawah rata-rata 15 - 35 : Anda harus belajar dan berlatih berpikir positif
agar mencapai kematangan emosional.





PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK


Tugas Perkembangan 6 : Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, social, intelektual, dan ekonomi
Kelas/Semester : XII/1,2
Topik Bahasan : Memilih teman dekat sebagai persiapan memasuki kehidupan Berpikir secara positif dalam kehidupan sehari-hari
Bidang Bimbingan : Pribadi
Jenis Layanan : Informasi
Isi Materi : Cara-cara bergaul dengan lawan jenis
Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang
Instrumen Penilaian : Angket

------------------------------------------------------------------------------------------------

Petunjuk mengerjakan Angket

Jawablah pernyataan di bawah ini dengan membubuhkan tanda checklist pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda

No. Pernyataan Jawaban
Ya Tidak
1
2

3

4

5 Apakah anda sudah mempunyai teman dekat ?
Apakah anda merasa cocok dengan teman dekat anda saat ini ?
Apakah anda memperoleh manfaat yang positif dari hubungan ini ?
Apakah anda dan teman dekat anda sudah merencanakan untuk berkeluarga ?
Apakah anda sudah mempersiapkan diri secara psikologis untuk memasuki kehidupan berkeluarga ?

Skoring :
Ya = 1
Tidak = 2

Interpretasi :
Skor 5 :Secara emosional anda sudah matang untuk memasuki kehidupan berkeluarga.

Skor di bawah 4 : anda belum matang secara emosional untuk memasuki kehidupan berkeluarga.



PENILAIAN KEBERHASILAN LAYANAN BK

Tugas Perkembangan 6 : Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, social, intelektual, dan ekonomi
Kelas/Semester : X/1,2
Topik Bahasan : belajar mengambil keputusan secara mandiri dalam bidang ekonomi
Bidang Bimbingan : Pribadi
Jenis Layanan : Informasi
Isi Materi : 1. Cara-cara/kiat menggunakan uang secara
efektif.
2. Tips belanja hemat
Penilaian - Laiseg
- Laijapen
- Laijapang
Instrumen Penilaian : Angket
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Petunjuk mengerjakan Angket

Jawablah pernyataan di bawah ini dengan membubuhkan tanda checklist pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda

No. Pernyataan Jawaban
Ya Tidak
1

2

3
4

5
6
7

8


9

10 Apakah anda diberi uang saku secara khusus oleh orang tua ?
Apakah uang yang diberikan oleh orang tua anda cukup untuk memenuhi keperluan anda ?
Dapatkah anda mengatur keuangan dengan baik ?
Apakah anda bisa menyisihkan uang saku yang diberikan orang tua anda ?
Bila uang saku anda bersisa, apakah anda tabung ?
Apakah anda sering pergi berbelanja ?
Apakah anda membeli barang-barang sesuai dengan kebutuhan anda ?
Jika ada jenis barang yang menarik perhatianmu, padahal anda tidak membutuhkannya, apakah anda akan membelinya ?
Jika anda pergi ke swalayan atau toko, apakah anda sering membeli jenis makanan ringan/cemilan ?
Apakah anda membeli baju setiap bulan ?


Skoring :
Ya : 1
Tidak : 0

Interpretasi :
Skor maksimal : 10
Skor rata-rata : 5

1. Skor di atas rata-rata : Anda sudah dapat mengelola keuangan secara efektif.
2. Skor rata-rata : Anda perlu meningkatkan kemampuan anda dalam mengelola keuangan
3. Skor di bawah rata-rata : Anda perlu belajar cara mengelola keuangan secara efektif.

SEJARAH LAHIRNYA BK DAN POLA 17

Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas, parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah mulai jelas.
Pra Lahirnya Pola 17
Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan berdampak pada buruknya citra bimbingan dan konseling, sehingga melahirkan miskonsepsi terhadap pelaksanaan BK, munculnya persepsi negatif terhadap pelaksanaan BK, berbagai kritikan muncul sebagai wujud kekecewaan atas kinerja Guru Pembimbing sehingga terjadi kesalahpahaman, persepsi negatif dan miskonsepsi berlarut. Masalah menggejala diantaranya: konselor sekolah dianggap polisi sekolah, BK dianggap semata-mata sebagai pemberian nasehat, BK dibatasi pada menangani masalah yang insidental, BK dibatasi untuk klien-klien tertentu saja, BK melayani ”orang sakit” dan atau ”kurang normal”, BK bekerja sendiri, konselor sekolah harus aktif sementara pihak lain pasif, adanya anggapan bahwa pekerjaan BK dapat dilakukan oleh siapa saja, pelayanan BK berpusat pada keluhan pertama saja, menganggap hasil pekerjaan BK harus segera dilihat, menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien, memusatkan usaha BK pada penggunaan instrumentasi BK (tes, inventori, kuesioner dan lain-lain) dan BK dibatasi untuk menangani masalah-masalah yang ringan saja.
Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan disebabkan diantaranya oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Belum adanya hukum
Sejak Konferensi di Malang tahun 1960 sampai dengan munculnya Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung dan IKIP Malang tahun 1964, fokus pemikiran adalah mendesain pendidikan untuk mencetak tenaga-tenaga BP di sekolah. Tahun 1975 Konvensi Nasional Bimbingan I di Malang berhasil menelurkan keputusan penting diantaranya terbentuknya Organisasi bimbingan dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Melalui IPBI inilah kelak yang akan berjuang untuk memperolah Payung hukum pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah menjadi jelas arah kegiatannya.
2. Semangat luar biasa untuk melaksanakan
BP di sekolahLahirnya SK Menpan No. 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Merupakan angin segar pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. Semangat yang luar biasa untuk melaksanakan ini karena di sana dikatakan “Tugas guru adalah mengajar dan/atau membimbing.” Penafsiran pelaksanaan ini di sekolah dan didukung tenaga atau guru pembimbing yang berasal dari lulusan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan atau Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (sejak tahun 1984/1985) masih kurang, menjadikan pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas. Lebih-lebih lagi dilaksanakan oleh guru-guru yang ditugasi sekolah berasal dari guru yang senior atau mau pensiun, guru yang kekurangan jam mata pelajaran untuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Pengakuan legal dengan SK Menpan tersebut menjadi jauh arahnya terutama untuk pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah.
3. Belum ada aturan main yang jelas
Apa, mengapa, untuk apa, bagaimana, kepada siapa, oleh siapa, kapan dan di mana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan dilaksanakan juga belum jelas. Oleh siapa bimbingan dan penyuluhan dilaksanakan, di sekolah banyak terjadi diberikan kepada guru-guru senior, guru-guru yang mau pensiun, guru mata pelajaran yang kurang jam mengajarnya untuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Guru-guru ini jelas sebagian besar tidak menguasai dan memang tidak dipersiapkan untuk menjadi Guru Pembimbing. Kesan yang tertangkap di masyarakat terutama orang tua murid Bimbingan Penyuluhan tugasnya menyelesaikan anak yang bermasalah. Sehingga ketika orang tua dipanggil ke sekolah apalagi yang memanggil Guru Pembimbing, orang tua menjadi malu, dan dari rumah sudah berpikir ada apa dengan anaknya, bermasalah atau mempunyai masalah apakah. Dari segi pengawasan, juga belum jelas arah dan pelaksanaan pengawasannya. Selain itu dengan pola yang tidak jelas tersebut mengakibatkan:
1. Guru BP (sekarang Konselor Sekolah) belum mampu mengoptimalisasikan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan terhadap siswa yang menjadi tanggungjawabnya. Yang terjadi malah guru pembimbing ditugasi mengajarkan salah satu mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Kesenian, dsb.nya.
2. Guru Pembimbing merangkap pustakawan, pengumpul dan pengolah nilai siswa dalam kelas-kelas tertentu serta berfungsi sebagai guru piket dan guru pengganti bagi guru mata pelajaran yang berhalangan hadir.
3. Guru Pembimbing ditugasi sebagai “polisi sekolah” yang mengurusi dan menghakimi para siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah seperti terlambat masuk, tidak memakai pakaian seragam atau baju yang dikeluarkan dari celana atau rok.
4. Kepala Sekolah tidak mampu melakukan pengawasan, karena tidak memahami program pelayanan serta belum mampu memfasilitasi kegiatan layanan bimbingan di sekolahnya,
5. Terjadi persepsi dan pandangan yang keliru dari personil sekolah terhadap tugas dan fungsi guru pembimbing, sehingga tidak terjalin kerja sama sebagaimana yang diharapkan dalam organisasi bimbingan dan konseling.Kondisi-kondisi seperti di atas, nyaris terjadi pada setiap sekolah di Indonesia.
Lahirnya Pola 17
SK Mendikbud No. 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya terdapat hal-hal yang substansial, khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling adalah : 1. Istilah “bimbingan dan penyuluhan” secara resmi diganti menjadi “bimbingan dan konseling.” 2. Pelaksana bimbingan dan konseling di sekolah adalah guru pembimbing, yaitu guru yang secara khusus ditugasi untuk itu. Dengan demikian bimbingan dan konseling tidak dilaksanakan oleh semua guru atau sembarang guru. 3. Guru yang diangkat atau ditugasi untuk melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling adalah mereka yang berkemampuan melaksanakan kegiatan tersebut; minimum mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam. 4. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan pola yang jelas : a. Pengertian, tujuan, fungsi, prinsip dan asas-asasnya. b. Bidang bimbingan : bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir c. Jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan/penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.d. Kegiatan pendukung : instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah dan alih tangan kasus. Unsur-unsur di atas (nomor 4) membentuk apa yang kemudian disebut “BK Pola-17” 5. Setiap kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan melalui tahap :a. Perencanaan kegiatanb. Pelaksanaan kegiatanc. Penilaian hasil kegiatand. Analisis hasil penilaiane. Tindak lanjut6. Kegiatan bimbingan dan konseling dilaksanakan di dalam dan di luar jam kerja sekolah. Hal-hal yang substansial di atas diharapkan dapat mengubah kondisi tidak jelas yang sudah lama berlangsung sebelumnya. Langkah konkrit diupayakan seperti :1. Pengangkatan guru pembimbing yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling.2. Penataran guru-guru pembimbing tingkat nasional, regional dan lokal mulai dilaksanakan.3. Penyususnan pedoman kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, seperti :a. Buku teks bimbingan dan konselingb. Buku panduan pelaksanaan menyeluruh bimbingan dan konseling di sekolahc. Panduan penyusunan program bimbingan dan konselingd. Panduan penilaian hasil layanan bimbingan dan konselinge. Panduan pengelolaan bimbingan dan konseling di sekolah4. Pengembangan instrumen bimbingan dan konseling5. Penyusunan pedoman Musyawarah Guru Pembimbing (MGP) Dengan SK Mendikbud No 025/1995 khususnya yang menyangkut bimbingan dan konseling sekarang menjadi jelas : istilah yang digunakan bimbingan dan konseling, pelaksananya guru pembimbing atau guru yang sudah mengikuti penataran bimbingan dan konseling selama 180 jam, kegiatannya dengan BK Pola-17, pelaksanaan kegiatan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian, analisis penilaian dan tindak lanjut. Pelaksanaan kegiatan bisa di dalam dan luar jam kerja. Peningkatan profesionalisme guru pembimbing melalui Musyawarah Guru Pembimbing, dan guru pembimbing juga bisa mendapatkan buku teks dan buku panduan.